Jumat, 27 September 2013
Gerakan-gerakan dalam Sholat yang sangat berpengaruh terhadap Otak.
Assalamualaikum wr.wb
Teman-teman berikut ini sekilas pengetahuan yang mungkin bisa nambah wawasan yang saya dapat dari http://www.batararayamedia.com
Gerakan-gerakan dalam Sholat yang sangat berpengaruh terhadap Otak.
Sholat yang merupakan ibadah wajib yang harus dilakukan disetiap hari, ternyata banyak sekali pengaruhnya terhadap kesehatan dan perkembangan kebaikan otak manusia. Sholat adalah salah satu diantara aktivitas yang berpengaruh terhadap kebaikan otak (jasmani) sekaligus ruhani.
Gerakan-gerakan yang sangat berpengaruh terhadap Otak, diantaranya :
Ruku’
Rutinitas ruku’ sebanyak 17 kali dalam lima waktu sholat sehari semalam bermanfaat meningkatkan refleks, selalu siap sedia dalam berbagai keadaan. Dengan demikian, mekanisme pengaturan tekanan darah dan irama jantung akan terjaga. Suplaidarah ke otak yang meningkat saat melakukan gerakan ini juga mengoptimalkan oksigenasi sel-sel saraf ke otak sehingga fungsi sel-sel di otak (sebagai gudang memori dan pengendali kerja seluruh sitem dan organ tubuh) menjadi optimal.
Inilah esensi dari sabda Rosululloh SAW yang diriwayatkan oleh Hasan Al-Bashri bahwa Alloh SWT tidak melihat seseorang hamba yang tidak menegakkan punggungnya antara ruku’ dan sujud, akibat oksigenasi sel-sel saraf otak proses berpikir manusia dalam menentukan keputusan lebih jernih, mampu menimbang mana yang baik dan mana yang benar, sehingga sholat juga menjadi sarana untuk menjaga agar tetap berada di jalan kebenaran sesuai firman-Nya: “Dirikanlah sholat! Sesungguhnya sholat itu menghalangi perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut : 45)
I’tidal.
I’tidal atau gerakan setelah ruku’ adalah gerakan kembali ke posisi tegak. Posisi ini membantu metabolisme otak dan jantung agar bekerja optimal. Oleh karena itu, dalam i’tidal aliran darah yang tadinya terfokus di kepala setelah ruku’ akan turun ke badan sesuai gravitasi.
Gerakaan takbir bersamaan dengan menegakkan badan saat i’tidal menyebabkan stimulus pada cabang besar saraf di bahu-ketiak yang merupakan cabang saraf yang melayani organ jantung, paru-paru dan sebagian organ pencernaan, ketika mengangkat kedua lengan, paru-paru akan mengembang sehingga dapat meningkatkan masuknya oksigen. Saat kedua lengan bergerak turun untuk kemudian berada di samping kanan dan kiri badan, sisa pembakaran atau metabolisme yang bermuatan negatif dikeluarkan bersamaan dengan hembusan nafas.
Sujud.
Gerakan sujud akan membuat otot dada dan otot sela iga menjadi kuat sehingga rongga dada bertambah besar dan paru-paru berkembang dengan baik sehingga dapat menghisap udara. Lutut yang membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot-otot perut berkembang dan mencegah kegombyongandi bagian tengah. Gerakan sujud ini juga menambah aliran darah ke bagian atas tubuh terutama kepala (mata, telinga, hidung) serta paru-paru dan memungkinkan dibersihkannya toksin-toksin oleh darah.
Bagi wanita hamil gerakan sujud ini juga bermanfaat mempertahankan posisi janin yang sudah benar, mengurangi tekan darah tinggi, menambah elastisitas tulang, menghilangkan egoisme dan kesombongan. Meningkatkan kesabaran dan kepercayaan kepada Alloh SWT. sehingga akan menghasilkan energi bathin yang tinggi di seluruh tubuh. Posisi ini menunjukkan ketundukkan dan kerendahan hati tertinggi (menyerahkan diri). Maka itu tak heran jika mulanya seorang sholat dalam keadaan lelah, mengantuk dan lemas akan kembali segar setelah sujud.
Duduk di antara dua sujud.
Duduk tachiyat pertama disebut duduk iftiros atau duduk di antara dua sujud. Pada posisi ini otot-otot pangkal paha yang di dalamnya ada salah satu saraf pangkal paha yang besar yaitu di atas rumit kaki berfungsi sebagai penyangga. Gerakan ini menyebabkan otot-otot di bagian ini terpijit (refleksi). Pijatan ini bermanfaat melindungi diri dari penyakit syaraf pangkal paha (neuralgi) yang terasa sakit dan nyeri sehingga kaki tidak dapat digerakkan, juga membantu meregangkan cabang saraf tulang belakang, segmen dada dan punggung bagian bawah serta pinggul. Tulang ekor sebagai tempat keluar cabang saraf juga akan meregang.
Pada posisi ini serabut saraf pinggang ke-2 dan 3 (daerah paha isi dalam), daerah tulang kering dan segmen ekor ke-1 (punggung kaki) akan terstimulasi (refleksi). Segmen saraf ini melayani organ liver, ginjal, usus, saluran pembuangan (dubur), kelenjar prostat (laki-laki), rahim (perempuan), penis dan vagina sehingga gerakan ini kemungkinan besar dapat mengoptimalkan kinerja organ-organ tersebut.
Organ-organ genetalia dan enzim pencernaan juga akan bekerja secara optimal sehingga dapat mencerna dan mengolah material makanan untuk kemudian menyerapnya sesuai kebutuhan tubuh. Dengan demikian sisa-sisa pencernaan yang tidak diperlukan akan dikeluarkan pada saat buang air besar.
Tahiyatul akhir.
Dari sisi kesehatan nyata, gerakan salam juga merangsang refleksi di kanan kiri leher sehingga bisa mengendalikan tekanan darah dan irama jantung. Inilah bagian dari relaksasi penutup exercise lahir bathin yang dilakukan dalam sholat.
Demikianlah diantara uraian tentang otak, potensi dan kelebihannya serta perhatian Alloh terhadap nikmat otak tersebut. Semoga dengan mengetahui ini akan bisa membuat kita lebih “SYUKUR” terhadap nikmat Alloh yang bernama otak tersebut, selanjutnya akan mendapat tambahan “nikmat” dari-Nya melalui penggunaan otak secara maksimal.
Wassalamualaikum wr.wb
Minggu, 01 September 2013
Tugas Rumah Kelas XF
Assalammualaikum.
Pada kesempatan ini saya akan memberi jawaban tuigas yang tidak sempat dibahas di kelas XF.
5.(a) 4 angka penting (b) 5 angka penting (c) 2 angka penting (d) 2 angka penting
6.(a) 43,35 (b) 88,0 (c) 0,090 (d) 225
7.(a) 24,286 + 2,343 + 3,21 = 30,24 m
(b) 3,67 x 104 + 2,54 x 103 = 36,7 x 103 + 2,54 x 103 = (36,7 + 2,54) x 103
= 39,2 × 104 g
(c) 297,15 – 13,5 = 283,7 m
(d) 6,35 x 103 – 5665 = (6,35 – 5,665) x 103 = 0,69 × 103 m
(e) 0,012 kg + 30 g = 12 g + 30 g = 42 g
8.(a) 2,5 m x 3,14 m = 7,9 m2
2 AP 3 AP 2 AP; (AP = angka penting)
(b) 2,5 m x 4,20 m x 0,305 m = 10,5 x 0,3052 m3 = 3,2 m3
2 AP 3 AP hasil antara dari 2 AP 4 AP 2 AP
(c) 323,75 N : 5,0 m2 = 65 N/m2
5 AP 2 AP 2 AP
(d) 7,4 cm = 7,0 cm
17. [p] = [m][v] = [M][L.T-1] = MLT-1
[I] = [F][t] = [MLT-2][T] = MLT-1
[p] = [I]. Jadi, momentum dan impuls adalah besaran vektor yang setara.
18. (a) a = ; LT-2 = ; tidak sama, sehingga persamaan pasti salah
(b) v2 = vo2 + 2as; (L.T-1)2 = (L.T-1)2 + [L.T-2][L]
L2T-2 = L2T-2 + L2T-2 → sama, sehingga persamaan mungkin benar
Rabu, 28 Agustus 2013
ALAT PERAGA
A. Latar Belakang Masalah
Prestasi siswa-siswa Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional sangat membanggakan. Prestasi ini ternyata tidak mencerminkan minat siswa-siswa Indonesia dalam mempelajari fisika di sekolah. Banyak siswa-siswa di sekolah tidak berminat pada mata pelajaran fisika karena fisika itu dianggap sulit. Fisika dianggap sebagai ilmu yang penuh berisi rumus-rumus matematika sehingga tidak mudah dipahami. Mengapa hal ini terjadi ? Ada kemungkinan salah satu sebabnya adalah cara penyampaian guru dalam pembelajaran fisika. Fisika sebagai ilmu yang mempunyai obyek berupa benda-benda real jika disampaikan hanya dengan cara ceramah maka materi yang diterima siswa dapat dipahami sebagai kumpulan rumus-rumus atau konsep-konsep abstrak.
Salah satu cara penyampaian meteri fisika yang dapat menjembatani antara konsep fisis yang abstrak dengan keadaan fisis yang real adalah dengan menggunakan media. Berbagai media dapat digunakan sebagai perantara dalam pembelajaran fisika, misalnya alat peraga dan alat percobaan. Meskipun alat peraga dan alat percobaan dapat menurunkan tingkat keabstrakan konsep fisis, tetapi masih banyak guru yang belum menggunakan media tersebut. Ada beberapa kemungkinan hal ini terjadi, misalnya : sekolah tidak memiliki alat peraga yang memadai, alat peraga berasal dari program paket sehingga tidak memahaminya, motivasi dan kreativitas guru kurang dalam pembuatan alat peraga, pembuatan alat peraga memerlukan biaya mahal dan memerlukan waktu lama, padatnya jam mengajar sehingga tidak terdapat waktu untuk membuat alat peraga dan lain sebagainya.
Departemen Pendidikan Nasional (Sungkowo, 2 :2003) menyarankan agar dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dilanjutkan dengan Kurikulum Tiap Satuan Pelajaran (KTSP), menggunakan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) yaitu suatu pendekatan yang dikaitkan dengan konteks dimana siswa berada. Berdasarkan hal tersebut, bagaimana upaya guru untuk memanfaatkan alat peraga dalam kegiatan belajar-mengajar? Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan baha-bahan dari lingkungan sekitar untuk membuat alat peraga fisika. Ada beberapa keuntungan pembuatan alat peraga berbasis lingkungan, diantaranya : mudah didapat, murah harganya, mudah dipahami siswa karena terdapat di sekitar mereka, meningkatkan minat siswa karena fisika ada di sekitar mereka dan mampu meningkatkan kreativitas guru.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, permasalahan dalam makalah ini diungkapkan sebagai berikut :
1. Bagaimana merancang alat peraga fisika berbasis lingkungan ?
2. Bagaimana membuat alat peraga fisika berbasis lingkungan ?
3. Bagaimana mengaplikasikan alat peraga fisika berbasis lingkungan ?
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Fungsi Alat Peraga
Alat peraga merupakan media pengajaran yang mengandung atau membawakan konsep-konsep yang dipelajari (Pujiati, 3 :2004). Alat peraga fisika adalah seperangkat benda konkrit yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuik membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan hukum-hukum fisika. Alat peraga dapat menyajikan hal-hal yang abstrak dalam bentuk benda-benda atau fenomena-fenomena kongkrit yang dapat dilihat, dipegang, diubah-ubah sehingga hal-hal yang abstrak lebih mudah dipahami.
Secara umum fungsi alat peraga fisika adalah :
1. sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep fisika
2. sebagai media dalam memantapkan konsep-konsep fisika
3. sebagai media untuk menunjukkan hubungan antar konsep fisika
4. sebagai media untuk menunjukkan hukum-hukum fisika
5. sebagai media untuk menunjukkan hubungan antara konsep fisika dengan dunia di sekitar kita serta aplikasi konsep dengan kehidupan nyata
B. Perancangan Alat Peraga Fisika
Langkah-langkah untuk merancang alat peraga fisika diungkapkan sebagai berikut :
1. Tentukan materi fisika yang akan dibuat peraganya. Sesuaikan dengan silabus yang ada di kurikulum.
2. Cari sumber acuan yang relevan
3. Identifikasi konsep-konsep apa yang terkait dengan alat peraga
4. Cari bahan-bahan alat peraga yang ada di lingkungan sekitar
5. Perkirakan ukuran dan bentuk alat peraga.
6. Buat gambar atau skema alat peraga.
C. Pembuatan Alat Peraga Fisika
Langkah-langkah pembuatan alat peraga fisika dijelaskan sebagai berikut :
1. Siapkan bahan-bahan yang diperlukan
2. Lakukan ujicoba awal untuk memunculkan proses dasar alat
3. Buat alat peraga sesuai dengan gambar/skema yang telah dirancang
4. Ujicoba alat yang dibuat, apakah dapat berfungsi sesuai dengan rencana atau tidak
5. Catat dan analisa data dari hasil ujicoba untuk mengetahui apakah alat peraga yang dibuat signifikan.
6. Buat Petunjuk Penggunaan Alat Peraga
D. Penggunaan Alat Peraga Fisika
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam penggunaan alat peraga antara lain :
1. Ujicoba alat peraga terlebih dahulu sebelum digunakan (kurang lebih 10 menit sebelum digunakan)
2. Siapkan petunjuk penggunaan alat peraga
3. Untuk kegiatan demonstrasi, jelaskan dan demonstrasikan alat peraga di depan siswa, kemudian mintalah sejumlah siswa untuk mendemostrasikannya.
4. Untuk kegiatan eksperimen, mintalah kepada siswa untuk membaca petunjuk terlebih dahulu kemudian perintahkan untuk melakukan eksperimen
5. Perintahkan kepada siswa untuk mencatat dan menganalisa data yang diperolehnya
6. Perintahkan kepada siswa untuk menyampaikan hasil pengamatannya.
III. Kesimpulan
1. Perancangan alat peraga berbasis lingkungan dilakukan dengan membuat gambar atau skema berdasarkan topik dan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar
2. Pembuatan alat peraga berbasis lingkungan dilakukan dengan menyusun bahan-bahan dari lingkungan sekitar sesuai dengan gambar/skema rancangan alat.
3. Cara mengaplikasikan alat peraga berbasis lingkungan adalah dengan melibatkan siswa dalam penggunaan alat agar proses penemuan konsep fisis terjadi pada siswa.
Prestasi siswa-siswa Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional sangat membanggakan. Prestasi ini ternyata tidak mencerminkan minat siswa-siswa Indonesia dalam mempelajari fisika di sekolah. Banyak siswa-siswa di sekolah tidak berminat pada mata pelajaran fisika karena fisika itu dianggap sulit. Fisika dianggap sebagai ilmu yang penuh berisi rumus-rumus matematika sehingga tidak mudah dipahami. Mengapa hal ini terjadi ? Ada kemungkinan salah satu sebabnya adalah cara penyampaian guru dalam pembelajaran fisika. Fisika sebagai ilmu yang mempunyai obyek berupa benda-benda real jika disampaikan hanya dengan cara ceramah maka materi yang diterima siswa dapat dipahami sebagai kumpulan rumus-rumus atau konsep-konsep abstrak.
Salah satu cara penyampaian meteri fisika yang dapat menjembatani antara konsep fisis yang abstrak dengan keadaan fisis yang real adalah dengan menggunakan media. Berbagai media dapat digunakan sebagai perantara dalam pembelajaran fisika, misalnya alat peraga dan alat percobaan. Meskipun alat peraga dan alat percobaan dapat menurunkan tingkat keabstrakan konsep fisis, tetapi masih banyak guru yang belum menggunakan media tersebut. Ada beberapa kemungkinan hal ini terjadi, misalnya : sekolah tidak memiliki alat peraga yang memadai, alat peraga berasal dari program paket sehingga tidak memahaminya, motivasi dan kreativitas guru kurang dalam pembuatan alat peraga, pembuatan alat peraga memerlukan biaya mahal dan memerlukan waktu lama, padatnya jam mengajar sehingga tidak terdapat waktu untuk membuat alat peraga dan lain sebagainya.
Departemen Pendidikan Nasional (Sungkowo, 2 :2003) menyarankan agar dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dilanjutkan dengan Kurikulum Tiap Satuan Pelajaran (KTSP), menggunakan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) yaitu suatu pendekatan yang dikaitkan dengan konteks dimana siswa berada. Berdasarkan hal tersebut, bagaimana upaya guru untuk memanfaatkan alat peraga dalam kegiatan belajar-mengajar? Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan baha-bahan dari lingkungan sekitar untuk membuat alat peraga fisika. Ada beberapa keuntungan pembuatan alat peraga berbasis lingkungan, diantaranya : mudah didapat, murah harganya, mudah dipahami siswa karena terdapat di sekitar mereka, meningkatkan minat siswa karena fisika ada di sekitar mereka dan mampu meningkatkan kreativitas guru.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, permasalahan dalam makalah ini diungkapkan sebagai berikut :
1. Bagaimana merancang alat peraga fisika berbasis lingkungan ?
2. Bagaimana membuat alat peraga fisika berbasis lingkungan ?
3. Bagaimana mengaplikasikan alat peraga fisika berbasis lingkungan ?
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Fungsi Alat Peraga
Alat peraga merupakan media pengajaran yang mengandung atau membawakan konsep-konsep yang dipelajari (Pujiati, 3 :2004). Alat peraga fisika adalah seperangkat benda konkrit yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuik membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan hukum-hukum fisika. Alat peraga dapat menyajikan hal-hal yang abstrak dalam bentuk benda-benda atau fenomena-fenomena kongkrit yang dapat dilihat, dipegang, diubah-ubah sehingga hal-hal yang abstrak lebih mudah dipahami.
Secara umum fungsi alat peraga fisika adalah :
1. sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep fisika
2. sebagai media dalam memantapkan konsep-konsep fisika
3. sebagai media untuk menunjukkan hubungan antar konsep fisika
4. sebagai media untuk menunjukkan hukum-hukum fisika
5. sebagai media untuk menunjukkan hubungan antara konsep fisika dengan dunia di sekitar kita serta aplikasi konsep dengan kehidupan nyata
B. Perancangan Alat Peraga Fisika
Langkah-langkah untuk merancang alat peraga fisika diungkapkan sebagai berikut :
1. Tentukan materi fisika yang akan dibuat peraganya. Sesuaikan dengan silabus yang ada di kurikulum.
2. Cari sumber acuan yang relevan
3. Identifikasi konsep-konsep apa yang terkait dengan alat peraga
4. Cari bahan-bahan alat peraga yang ada di lingkungan sekitar
5. Perkirakan ukuran dan bentuk alat peraga.
6. Buat gambar atau skema alat peraga.
C. Pembuatan Alat Peraga Fisika
Langkah-langkah pembuatan alat peraga fisika dijelaskan sebagai berikut :
1. Siapkan bahan-bahan yang diperlukan
2. Lakukan ujicoba awal untuk memunculkan proses dasar alat
3. Buat alat peraga sesuai dengan gambar/skema yang telah dirancang
4. Ujicoba alat yang dibuat, apakah dapat berfungsi sesuai dengan rencana atau tidak
5. Catat dan analisa data dari hasil ujicoba untuk mengetahui apakah alat peraga yang dibuat signifikan.
6. Buat Petunjuk Penggunaan Alat Peraga
D. Penggunaan Alat Peraga Fisika
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam penggunaan alat peraga antara lain :
1. Ujicoba alat peraga terlebih dahulu sebelum digunakan (kurang lebih 10 menit sebelum digunakan)
2. Siapkan petunjuk penggunaan alat peraga
3. Untuk kegiatan demonstrasi, jelaskan dan demonstrasikan alat peraga di depan siswa, kemudian mintalah sejumlah siswa untuk mendemostrasikannya.
4. Untuk kegiatan eksperimen, mintalah kepada siswa untuk membaca petunjuk terlebih dahulu kemudian perintahkan untuk melakukan eksperimen
5. Perintahkan kepada siswa untuk mencatat dan menganalisa data yang diperolehnya
6. Perintahkan kepada siswa untuk menyampaikan hasil pengamatannya.
III. Kesimpulan
1. Perancangan alat peraga berbasis lingkungan dilakukan dengan membuat gambar atau skema berdasarkan topik dan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar
2. Pembuatan alat peraga berbasis lingkungan dilakukan dengan menyusun bahan-bahan dari lingkungan sekitar sesuai dengan gambar/skema rancangan alat.
3. Cara mengaplikasikan alat peraga berbasis lingkungan adalah dengan melibatkan siswa dalam penggunaan alat agar proses penemuan konsep fisis terjadi pada siswa.
Langganan:
Postingan (Atom)